Jakarta Bagi Anda penggemar astronomi, hujan meteor tentu menjadi salah satu peristiwa yang ditunggu-tunggu. Nah, malam nanti hujan meteor Draconids akan 'mengguyur' Bumi.
"Awal Oktober ini memang terjadi hujan meteor Draconids. Nanti malam puncaknya, tapi sifatnya variable. Jumlah meteornya sangat bergantung pada kandungan debu sisa komet Giacobini-Zinner," ujar Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN, Thomas Djamaluddin, kepada detikcom, Senin (8/10/2012).
Djamaluddin tidak bisa memprediksi berapa jumlah meteor yang tercipta di saat puncak. Namun diperkirakan jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang tahun lalu. Pada tahun lalu, saat puncak ada 600 meteor yang tercipta.
"Pada 2012 ini belum tentu sebanyak itu karena sifat dari sebaran debu komet ini tidak merata. Beda dengan tahun sebelumnya yang kandungan debu sisa kometnya masih padat sehingga hujan meteornya besar sekali," jelas alumnus Universitas Kyoto Jepang ini.
Menurutnya hujan meteor Draconids termasuk hujan meteor yang tidak bisa diperkirakan jumlahnya. Sebenarnya pada Februari 2012 ini, komet Giacobini-Zinner mendekat ke matahari. Setelah Februari 2012, sisa debu sudah menipis sehingga meteor yang dihasilkan saat meteor shower tidak terlalu banyak.
"Komet ini punya siklus 6,6 tahun. Dia mendekat ke matahari yang terakhir 2005 dan Februari 2012. Maka itu setelah Februari, sisa debunya sudah menipis," jelas Djamaluddin.
Meteor-meteor Draconids lahir dari arah peta bintang Draco, karena itu diberi nama Draconids. Karena berasal dari sisa debu komet Giacobini-Zinner, meteor ini juga dikenal sebagai Giacobinids.
Nah, bagi Anda yang ingin menyaksikan hujan meteor Draconids, bisa mencoba mengamatinya dengan mata telanjang. Nanti malam pukul 19.00-22.00 WIB, cobalah melihat langit arah utara hingga barat daya. Jika cuaca cerah, tidak ada polusi cahaya dan medan pandang tidak terbatas, maka kemungkinan Anda bisa menyaksikan fenomena ini.
"Setelah maghrib ada di utara, lalu menjelang pukul 22.00 WIB di arah barat daya," terang Djamaluddin.
Di bulan Oktober ini selain hujan meteor Draconids juga terjadi hujan meteor Orionids. Diperkirakan 21 Oktober menjadi puncak fenomena langit ini. Hujan meteor ini terjadi akibat sisa debu komet Halley yang cukup kuat.
"Sekitar 3 menit sekali bisa dilihat hujan meteornya. Cukup mudah diamati karena berada di rasi bintang Orion dan tepat di atas kepala. Orionids lebih menarik untuk diamati," ucap Djamaluddin.
(vit/nrl)
Senin, 08 Oktober 2012
Jumat, 05 Oktober 2012
Rencana 7 Mata Pelajaran untuk SD, Apa Saja?
JAKARTA, KOMPAS.com — Kurikulum pendidikan nasional dengan konsep penyederhanaan jumlah mata pelajaran terus digodok bersama tim dari pemerintah pusat dan sejumlah pakar pendidikan. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Suyanto, mengatakan, hampir dipastikan hanya akan ada tujuh mata pelajaran untuk siswa SD dari 11 mata pelajaran sebelumnya. Apa saja?
"Mata pelajaran SD nanti adalah Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, Kesenian, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan, serta Pengetahuan Umum," kata Suyanto saat dihubungiKompas.com, Selasa (2/10/2012) di Jakarta.
Menurut Suyanto, Kemendikbud memilih mata pelajaran yang lebih mengedepankan pembentukan sikap dan mengandung dasar-dasar mata pelajaran yang memiliki substansi pengembangan wawasan umum.
Sebelumnya, Suyanto juga sempat menyampaikan bahwa jumlah mata pelajaran di SD akan lebih disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam. Hal ini berbeda dengan kondisi mata pelajaran di SD saat ini yang cakupannya terlalu luas, tetapi tidak sebanding dengan isi materinya.
Khusus untuk mata pelajaran IPA dan IPS, Kemendikbud menilai kedua mata pelajaran itu belum perlu dipisahkan untuk jenjang SD. Diwacanakan, keduanya akan dilebur menjadi satu mata pelajaran bernama Pengetahuan Umum yang memiliki muatan yang terintegrasi dengan jenjang SMP dan SMA.
Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
"Mata pelajaran SD nanti adalah Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, Kesenian, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan, serta Pengetahuan Umum," kata Suyanto saat dihubungiKompas.com, Selasa (2/10/2012) di Jakarta.
Menurut Suyanto, Kemendikbud memilih mata pelajaran yang lebih mengedepankan pembentukan sikap dan mengandung dasar-dasar mata pelajaran yang memiliki substansi pengembangan wawasan umum.
Sebelumnya, Suyanto juga sempat menyampaikan bahwa jumlah mata pelajaran di SD akan lebih disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam. Hal ini berbeda dengan kondisi mata pelajaran di SD saat ini yang cakupannya terlalu luas, tetapi tidak sebanding dengan isi materinya.
Khusus untuk mata pelajaran IPA dan IPS, Kemendikbud menilai kedua mata pelajaran itu belum perlu dipisahkan untuk jenjang SD. Diwacanakan, keduanya akan dilebur menjadi satu mata pelajaran bernama Pengetahuan Umum yang memiliki muatan yang terintegrasi dengan jenjang SMP dan SMA.
Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
Rabu, 03 Oktober 2012
Kurikulum Baru, Hanya 7 Mata Pelajaran untuk SD
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud) Suyanto menyampaikan rencananya untuk menyederhanakan jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar (SD). Dari rata-rata SD saat ini yang memiliki 11 mata pelajaran, tahun depan akan disederhanakan menjadi sekitar tujuh mata pelajaran.
"Disederhanakan menjadi tujuh pelajaran dan supaya pola pikirnya sesuai usia anak-anak," kata Suyanto saat ditemui di gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (1/10/2012).
Dia menegaskan, jumlah mata pelajaran di SD akan disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam, khususnya dengan materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didik. Hal tersebut berbeda dengan kondisi kurikulum saat ini yang memiliki cakupan terlalu luas, tetapi dengan materi yang tidak dalam.
"Nanti akan sederhana, tetapi dalam. Kalau sekarang cakupannya luas, tetapi dangkal," ujar Suyanto.
Peleburan mata pelajaran seperti IPA dan IPS, lanjutnya, masih dalam diskusi panjang. Pasalnya, perdebatan perlu atau tidaknya pemisahan kedua mata pelajaran ini masih mengemuka.
"IPA dan IPS mungkin namanya akan menjadi pengetahuan umum, tapi belum final dan masih digodok. Yang jelas IPA dan IPS sangat jadi perhatian. Mungkin general dulu, makin naik makin mengerucut," ungkapnya.
Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Pembinaan SD Ditjen Dikdas Kemdikbud Ibrahim Bafadal menyampaikan hal senada. Menurutnya, kemungkinan jumlah mata pelajaran di SD disederhanakan sangatlah besar. Akan tetapi, semuanya harus condong pada materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didiknya.
"Bisa disederhanakan jumlahnya. Yang sudah tidak bisa ditawar itu Pendidikan Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika," pungkasnya.
Evaluasi dan perombakan kurikulum pendidikan nasional terus mengemuka. Meski belum final, beberapa wacana sudah dilontarkan oleh Kemdikbud. Nantinya, peserta didik di SD akan diprioritaskan memperoleh mata pelajaran yang dapat membentuk sikap, sementara siswa SMP diarahkan pada keterampilan, dan peserta didik di SMA dipenuhi dengan mata pelajaran yang mampu membangun pengetahuan.
Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
"Disederhanakan menjadi tujuh pelajaran dan supaya pola pikirnya sesuai usia anak-anak," kata Suyanto saat ditemui di gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (1/10/2012).
Dia menegaskan, jumlah mata pelajaran di SD akan disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam, khususnya dengan materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didik. Hal tersebut berbeda dengan kondisi kurikulum saat ini yang memiliki cakupan terlalu luas, tetapi dengan materi yang tidak dalam.
"Nanti akan sederhana, tetapi dalam. Kalau sekarang cakupannya luas, tetapi dangkal," ujar Suyanto.
Peleburan mata pelajaran seperti IPA dan IPS, lanjutnya, masih dalam diskusi panjang. Pasalnya, perdebatan perlu atau tidaknya pemisahan kedua mata pelajaran ini masih mengemuka.
"IPA dan IPS mungkin namanya akan menjadi pengetahuan umum, tapi belum final dan masih digodok. Yang jelas IPA dan IPS sangat jadi perhatian. Mungkin general dulu, makin naik makin mengerucut," ungkapnya.
Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Pembinaan SD Ditjen Dikdas Kemdikbud Ibrahim Bafadal menyampaikan hal senada. Menurutnya, kemungkinan jumlah mata pelajaran di SD disederhanakan sangatlah besar. Akan tetapi, semuanya harus condong pada materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didiknya.
"Bisa disederhanakan jumlahnya. Yang sudah tidak bisa ditawar itu Pendidikan Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika," pungkasnya.
Evaluasi dan perombakan kurikulum pendidikan nasional terus mengemuka. Meski belum final, beberapa wacana sudah dilontarkan oleh Kemdikbud. Nantinya, peserta didik di SD akan diprioritaskan memperoleh mata pelajaran yang dapat membentuk sikap, sementara siswa SMP diarahkan pada keterampilan, dan peserta didik di SMA dipenuhi dengan mata pelajaran yang mampu membangun pengetahuan.
Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
Jumat, 28 September 2012
Keuntungan Belajar di Luar Kelas
JAKARTA, KOMPAS.com - Belajar di luar ruangan kelas merupakan salah satu upaya terciptanya pembelajaran terhindar dari kejenuhan, kebosanan, dan persepsi belajar hanya di dalam kelas. Pembelajaran tak perlu melulu dilakukan di dalam kelas, tetapi bisa dilaksanakan di luar kelas, seperti di tempat-tempat terbuka tempat manusia bisa saling berinteraksi.
Hal ini disadari oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wipama Tangerang. Konsep belajar di luar sekolah telah diperluas menjadi belajar dari luar sekolah. Sekitar 100 siswa/i kejuruan ini diboyong belajar jauh dari gedung sekolahnya di Cikupa Tangerang ke ruangan AtAmerica, Gedung Pacific Place, Jakarta, Jumat (14/9/2012).
"Sengaja, kami mengajak para siswa untuk belajar di luar sekolah agar mereka tidak jenuh, dan dapat mengembangkan kreativitas serta melihat berbagai hal untuk mengglobal," kata Yaya Sukatya, Kepala SMK Wipama, saat berbincang dengan Kompas.com.
Yaya mengatakan, kegiatan seperti ini dirasakan betul manfaatnya, karena selain dapat mengubah persepsi pembelajaran, kunjungan ini sekaligus membuka wawasan siswanya.
"Mengajak siswa belajar di luar kelas dapat memberi pengaruh positif, dapat menambah wawasan, bahkan dapat langsung diaplikasikan di lapangan," ucapnya lagi.
Aplikasi yang dimaksud sangat beragam, Yaya memaparkan alasan mengajak siswanya ke pusat kebudayaan Amerika adalah menginginkan siswanya memiliki pengetahuan soal negara adidaya tersebut, selain itu juga berada dalam lingkungan kondusif untuk membudayakan bahasa internasional membuat para siswanya tertantang untuk menggunakan bahasa tersebut.
"Ini memacu siswa agar lebih aktif lagi berkomunikasi langsung dalam bahasa Inggris. Para siswa harus melihat sendiri, inilah keadaan paling kini. Semua harus pandai menyampaikan sesuatu dalam bahasa yang global," terangnya.
Belajar di luar sekolah juga lebih membuka pandangan para siswa sehingga pengetahuan di luar kurikulum pun dapat diterima lebih baik.
"Kunjungan saat ini memang kita bertemu wakil dari Kedutaan Amerika Serikat, kita tidak secara langsung belajar kebudayaannya, tapi kita belajar politik di Amerika, dan anak-anak suka itu," katanya
Hal ini disadari oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wipama Tangerang. Konsep belajar di luar sekolah telah diperluas menjadi belajar dari luar sekolah. Sekitar 100 siswa/i kejuruan ini diboyong belajar jauh dari gedung sekolahnya di Cikupa Tangerang ke ruangan AtAmerica, Gedung Pacific Place, Jakarta, Jumat (14/9/2012).
"Sengaja, kami mengajak para siswa untuk belajar di luar sekolah agar mereka tidak jenuh, dan dapat mengembangkan kreativitas serta melihat berbagai hal untuk mengglobal," kata Yaya Sukatya, Kepala SMK Wipama, saat berbincang dengan Kompas.com.
Yaya mengatakan, kegiatan seperti ini dirasakan betul manfaatnya, karena selain dapat mengubah persepsi pembelajaran, kunjungan ini sekaligus membuka wawasan siswanya.
"Mengajak siswa belajar di luar kelas dapat memberi pengaruh positif, dapat menambah wawasan, bahkan dapat langsung diaplikasikan di lapangan," ucapnya lagi.
Aplikasi yang dimaksud sangat beragam, Yaya memaparkan alasan mengajak siswanya ke pusat kebudayaan Amerika adalah menginginkan siswanya memiliki pengetahuan soal negara adidaya tersebut, selain itu juga berada dalam lingkungan kondusif untuk membudayakan bahasa internasional membuat para siswanya tertantang untuk menggunakan bahasa tersebut.
"Ini memacu siswa agar lebih aktif lagi berkomunikasi langsung dalam bahasa Inggris. Para siswa harus melihat sendiri, inilah keadaan paling kini. Semua harus pandai menyampaikan sesuatu dalam bahasa yang global," terangnya.
Belajar di luar sekolah juga lebih membuka pandangan para siswa sehingga pengetahuan di luar kurikulum pun dapat diterima lebih baik.
"Kunjungan saat ini memang kita bertemu wakil dari Kedutaan Amerika Serikat, kita tidak secara langsung belajar kebudayaannya, tapi kita belajar politik di Amerika, dan anak-anak suka itu," katanya
Rabu, 26 September 2012
Jawa Tengah Kembali Sabet Juara Umum Olimpiade Sains
JAKARTA, KOMPAS.com - Provinsi Jawa Tengah kembali menyabet gelar juara umum pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke-XI. Provinsi tersebut dikukuhkan sebagai juara umum dengan koleksi 96 medali yang terdiri atas 23 medali emas, 39 medali perak, dan 34 medali perunggu.
Tahun lalu, dalam penyelenggaraan OSN X, di Manado, Sulawesi Utara, Jawa Tengah juga menjadi juara umum setelah meraih 21 medali emas, 29 medali perak, dan 24 medali perunggu. Secara umum, perolehan medali tim Jawa Tengah pun meningkat.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim mengungkapkan para juara akan dipersiapkan untuk menjadi duta-duta pelajar Indonesia di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional.
"Para juara yang telah terpilih pada OSN ke-11 tahun ini dapat terus menjaga tradisi menjadi juara di berbagai ajang olimpiade internasional," kata Musliar, dalam sambutannya di acara Penutupan OSN ke-XI, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (6/9/2012) malam.
Musliar mengatakan, hampir setiap tahun, Tim Olimpiade Sains Internasional Indonesia senantiasa berhasil meraih berbagai medali pada ajang kompetisi sains seperti IPhO (International Physics Olympiad), IBO (International Biology Olympiad), IChO (International Chemistry Olympiad), serta IMO (International Mathematics Olympiad).
Musliar juga berharap melalui OSN ini, kecintaan terhadap sains di antara para pelajar dapat terus berkembang. Dengan demikian, anggapan bahwa bidang sains sulit dipelajari dan menakutkan bisa dihilangkan.
Untuk itu, kata Musliar, sekolah diharapkan lebih aktif memberi pemahaman sains kepada siswa mereka. Salah satunya dengan cara terus menerus meningkatkan kompetensi siswa dan secara inovatif menyiasati kekurangan fasilitas yang mungkin menjadi kendala.
Musliar berharap, OSN dapat menumbuhkan potensi sumber daya manusia di daerah melalui pembinaan dan seleksi pada tingkat daerah.
"Dilandasi oleh pemikiran bahwa para calon-calon ilmuwan yang terlahir melalui proses ini adalah sumber daya manusia yang harus dapat berperan serta dalam pembangunan daerahnya masing-masing," terangnya.
Oleh karena itu peran dan dukungan dari Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota harus tetap dijaga dan bahkan ditingkatkan dari dukungan finansial ke dukungan regulasi dan kebijakan daerah yang konsisten serta berkelanjutan.
"Di sinilah pentingnya tahap-tahap kegiatan lomba perlu diprogramkan lebih terintegrasi mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sekolah dan pembangunan daerah," pungkasnya.
Tahun lalu, dalam penyelenggaraan OSN X, di Manado, Sulawesi Utara, Jawa Tengah juga menjadi juara umum setelah meraih 21 medali emas, 29 medali perak, dan 24 medali perunggu. Secara umum, perolehan medali tim Jawa Tengah pun meningkat.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan, Musliar Kasim mengungkapkan para juara akan dipersiapkan untuk menjadi duta-duta pelajar Indonesia di berbagai ajang olimpiade sains tingkat internasional.
"Para juara yang telah terpilih pada OSN ke-11 tahun ini dapat terus menjaga tradisi menjadi juara di berbagai ajang olimpiade internasional," kata Musliar, dalam sambutannya di acara Penutupan OSN ke-XI, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (6/9/2012) malam.
Musliar mengatakan, hampir setiap tahun, Tim Olimpiade Sains Internasional Indonesia senantiasa berhasil meraih berbagai medali pada ajang kompetisi sains seperti IPhO (International Physics Olympiad), IBO (International Biology Olympiad), IChO (International Chemistry Olympiad), serta IMO (International Mathematics Olympiad).
Musliar juga berharap melalui OSN ini, kecintaan terhadap sains di antara para pelajar dapat terus berkembang. Dengan demikian, anggapan bahwa bidang sains sulit dipelajari dan menakutkan bisa dihilangkan.
Untuk itu, kata Musliar, sekolah diharapkan lebih aktif memberi pemahaman sains kepada siswa mereka. Salah satunya dengan cara terus menerus meningkatkan kompetensi siswa dan secara inovatif menyiasati kekurangan fasilitas yang mungkin menjadi kendala.
Musliar berharap, OSN dapat menumbuhkan potensi sumber daya manusia di daerah melalui pembinaan dan seleksi pada tingkat daerah.
"Dilandasi oleh pemikiran bahwa para calon-calon ilmuwan yang terlahir melalui proses ini adalah sumber daya manusia yang harus dapat berperan serta dalam pembangunan daerahnya masing-masing," terangnya.
Oleh karena itu peran dan dukungan dari Pemda Provinsi/Kabupaten/Kota harus tetap dijaga dan bahkan ditingkatkan dari dukungan finansial ke dukungan regulasi dan kebijakan daerah yang konsisten serta berkelanjutan.
"Di sinilah pentingnya tahap-tahap kegiatan lomba perlu diprogramkan lebih terintegrasi mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan sekolah dan pembangunan daerah," pungkasnya.
Senin, 24 September 2012
Oktober, Kisi-kisi UN 2013 Disosialisasikan
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) merencanakan sosialisasi kisi-kisi Ujian Nasional (UN) 2013 pada bulan depan. Saat ini, Kemendikbud tengah mematangkan konsep kisi-kisi tersebut untuk kemudian dikoordinasikan bersama Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Kepala Badan Penelitian dan Pemgembangan Kemendikbud, Chairil Anwar Notodiputro mengatakan, kebijakan untuk menerapkan 20 paket soal pada UN mendatang menuntut pihaknya melakukan pesiapan yang lebih matang, diawali dengan penyusunan kisi-kisi supaya bisa segera disosialisasikan.
"Dengan adanya 20 variasi soal memang perlu persiapan lebih, terutama kisi-kisi soal yang diujikan. Tahun lalu November akhir, tahun ini kami targetkan Oktober kisi-kisi sudah bisa dipelajari siswa," kata Chairil kepada Kompas.com, Sabtu (15/9/2012)
Akan tetapi, kata dia, sosialisasi baru bisa dilakukan setelah BSNP memberi "restu" untuk melansir kisi-kisi UN tersebut. Karena secara teknis, Kemendikbud hanya berwenang memberikan konsep atau draf kisi-kisi UN, langkah selanjutnya menjadi wewenang penuh BSNP sebagai badan yang bertanggungjawab besar pada UN.
"Balitbang Kemendikbud harus berkoordinasi dengan BSNP untuk mensosialisasikan kisi-kisi UN. Jika BSNP oke, maka itu akan langsung dibagikan ke masyarakat melalui website," pungkasnya.
Sesuai kisi-kisi
Sementara itu, Chairil juga mengatakan bahwa pembuatan soal-soal UN 2013 akan merujuk pada kisi-kisi yang bakal disosialisasikan. Dia mengatakan, rancangan ini bertujuan agar tercipta kesinambungan antara kisi-kisi UN dengan soal yang akan diujikan. Dengan demukian, para peserta UN tak akan kaget saat menghadapi ujian.
"Kisi-kisi menjadi dasar untuk pembuatan soal, supaya ada kesinambungan antara materi yang dipelajari dengan soal ujian," tuturnya.
Pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk menggunakan 20 jenis soal pada pelaksanaan UN 2013. Hal itu dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas UN, sejalan dengan upaya menekan praktik kecurangan pada hajat tahunan itu, selain agar sesuai dengan rencana mengintegrasikan hasil UN sebagai tiket masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Kepala Badan Penelitian dan Pemgembangan Kemendikbud, Chairil Anwar Notodiputro mengatakan, kebijakan untuk menerapkan 20 paket soal pada UN mendatang menuntut pihaknya melakukan pesiapan yang lebih matang, diawali dengan penyusunan kisi-kisi supaya bisa segera disosialisasikan.
"Dengan adanya 20 variasi soal memang perlu persiapan lebih, terutama kisi-kisi soal yang diujikan. Tahun lalu November akhir, tahun ini kami targetkan Oktober kisi-kisi sudah bisa dipelajari siswa," kata Chairil kepada Kompas.com, Sabtu (15/9/2012)
Akan tetapi, kata dia, sosialisasi baru bisa dilakukan setelah BSNP memberi "restu" untuk melansir kisi-kisi UN tersebut. Karena secara teknis, Kemendikbud hanya berwenang memberikan konsep atau draf kisi-kisi UN, langkah selanjutnya menjadi wewenang penuh BSNP sebagai badan yang bertanggungjawab besar pada UN.
"Balitbang Kemendikbud harus berkoordinasi dengan BSNP untuk mensosialisasikan kisi-kisi UN. Jika BSNP oke, maka itu akan langsung dibagikan ke masyarakat melalui website," pungkasnya.
Sesuai kisi-kisi
Sementara itu, Chairil juga mengatakan bahwa pembuatan soal-soal UN 2013 akan merujuk pada kisi-kisi yang bakal disosialisasikan. Dia mengatakan, rancangan ini bertujuan agar tercipta kesinambungan antara kisi-kisi UN dengan soal yang akan diujikan. Dengan demukian, para peserta UN tak akan kaget saat menghadapi ujian.
"Kisi-kisi menjadi dasar untuk pembuatan soal, supaya ada kesinambungan antara materi yang dipelajari dengan soal ujian," tuturnya.
Pemerintah telah menetapkan kebijakan untuk menggunakan 20 jenis soal pada pelaksanaan UN 2013. Hal itu dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas UN, sejalan dengan upaya menekan praktik kecurangan pada hajat tahunan itu, selain agar sesuai dengan rencana mengintegrasikan hasil UN sebagai tiket masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).
Rabu, 19 September 2012
DPR Berencana Merevisi UU Sisdiknas
JAKARTA, KOMPAS.com -- DPR berencana untuk merevisi Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Pengajuan revisi UU Sisdiknas tersebut dimaksudkan untuk menata kembali sistem pendidikan nasional yang dirasakan masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk kebijakan-kebijakan pendidikan yang terus menuai pro dan kontra.
"Ada keinginan Komisi X untuk berinisiatif mengajukan revisi UU Sisdiknas. Momentum yang diambil ketika UU Sisidiknas memasuki usia 10 tahun, yakni tahun 2013," kata Zulfadhli, anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Golkar, Selasa (18/9/2012) di Jakarta.
Anggota Komisi X Dedi S Gumilar menyampaikan hal senanda. "Pengajuan revisi memang belum secara formal. Kami tengah mengkaji pasal-pasal mana saja yang perlu direvisi, terutama yang tidak sesuai konstitusi dan perkembangan pendidikan," kata Dedi dari Fraksi PDI Perjuangan.
Menurut Zulfadhli, dalam perkembangannya, banyak pihak menilai hal-hal yang diatur dalam UU Sisidiknas masih kurang. Ada sejumlah pasal yang dirasakan belum bisa mengawal kemajuan pendidikan Indonesia di masa sekarang dan masa depan.
"Seperti wajib belajar 9 tahun yang diatur dalam UU Sisidiknas, kan sudah selesai. Kita mau bergerak maju ke wajib belajar 12 tahun, namun belum diatur di UU Sisdiknas," kata Zulfadhli.
Ia menjelaskan, perkembangan pendidikan yang memerlukan payung hukum yakni soal pendidikan anak usia dini (PAUD). "Saat ini, kebutuhan untuk mengembangkan PAUD bagi semua anak usia dini di seluruh Indonesia sudah mendesak. Namun, UU Sisidiknas belum memayungi penyelenggaraan PAUD secara lebih detil. Termasuk juga soal desentralisasi pendidikan, seperti perlu dikaji kembali. Terutama untuk memayungi keinginann banyak pihak untuk menarik kembali urusan pendidikan, utamanya guru, ke pemerintah pusat," tutur Zulfadhli.
Langganan:
Postingan (Atom)